Bubur Ayam Legendaris Haji Jewo Sejak 1980-an di Menteng: Jadi Langganan Keluarga Cendana

Dari balik kesederhanaan gerobak kayu Haji Jewo, sejumlah Presiden dan pejabat sudah pernah merasakan kenikmatan bubur ayamnya

Editor: Yogi Gustaman
Satrio Sarwo Trengginas
Seporsi bubur ayam Haji Jewo di Kawasan Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (14/9/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, MENTENG - Dari balik kesederhanaan gerobak kayu Haji Jewo, sejumlah Presiden dan pejabat sudah pernah merasakan kenikmatan bubur ayamnya. 

Bahkan, kuliner bubur ini dekat dengan keluarga besar Cendana, sebutan keluarga mantan Presiden Soeharto.

Pak Harto pun sempat menyantap langsung di tempat tanpa melalui ajudan.

Menurut salah satu karyawan Haji Jewo yang juga masih keponakannya, Oco, tidak hanya pengunjung biasa yang datang melainkan juga banyak dari artis dan pejabat negara.

Dari sekian banyak tokoh yang datang, ia mengingat satu momen ketika Jokowi, yang saat itu masih menjabat Gubernur DKI, datang untuk sarapan bubur Haji Jewo di Jalan Tanjung, Menteng.

Jokowi yang memiliki badan kurus itu sampai ingin tambah satu porsi lagi.

Cari Sarapan di Menteng? Coba Bubur Ayam Haji Jewo

Jerowan Sambas, Surganya bagi Pencinta Jeroan Garis Keras di Kebayoran Baru Jaksel

Berbagi Cerita Rasa dari Pempek Megaria Legendaris Sejak 1989 di Bioskop Metropole

"Kalau Jokowi pas ke sini pesannya enggak pakai cakwe. Pas Jadi Gubernur sering ke sini, pernah nambah makannya jadi 2 porsi," ceritanya kepada TribunJakarta.com pada Jumat (4/9/2020).

Pada tahun 2015, bubur Haji Jewo diminta pindah dari Jalan Tanjung ke area Masjid Cut Meutia.

Kendati demikian, masih banyak pelanggan yang datang demi menikmati lezatnya bubur berciri khas tanpa kuah kaldu itu meski tak seramai di Jalan Tanjung.

Namun, sejak pindah lapak, Jokowi yang kini menjabat sebagai Presiden RI belum pernah lagi menyantap bubur H Jewo.

Menikmati Bubur Ayam H Jewo

Soal rasa, bubur ayam Haji Jewo tidak berubah. Ciri khas dari bubur ini adalah tanpa kuah kaldu.

Bubur sudah terasa gurih setelah diolah selama berjam-jam menggunakan beras pera dengan kualitas super.

Di atas bubur, ditaburi potongan cakwe, seledri, bawang goreng, suiran ayam, dan kerupuk.

Manis Kental Es Teler Pertama di Indonesia Sejak 1970-an: Ada di Samping Bioskop Metropole

Nikmatnya Mengudap Rasa Bakmi Gang Kelinci yang Legendaris Sejak 1957

Warteg Warmo Legendaris Sejak 1969 di Tebet Jakarta Selatan

Ayamnya berasal dari ayam kampung. Kata Oco, untuk memotong ayam Haji Jewo memiliki tempat khusus.

Ketika dihidangkan di atas meja, bubur terselimuti topping yang berlimpah. Suiran ayamnya terlihat besar-besar dan banyak.

Sambalnya yang kental juga merupakan kondimen bubur dengan rasa khas. Sebab, ada campuran air tajin bubur sehingga sambal menjadi kental.

Bubur Ayam Haji Jewo buka pukul jam 06.00 WIB sampai 11.00 WIB. Namun, di akhir pekan bisa jadi lebih cepat. Pernah saking ramainya, jam 09.00 WIB bubur telah tandas.

Biasanya cepat habis karena dibeli orang-orang yang kelaparan selepas berolahraga.

Sumber: Tribun Jakarta

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved