Bubur Ayam Legendaris Haji Jewo Sejak 1980-an di Menteng: Jadi Langganan Keluarga Cendana

Dari balik kesederhanaan gerobak kayu Haji Jewo, sejumlah Presiden dan pejabat sudah pernah merasakan kenikmatan bubur ayamnya

Satrio Sarwo Trengginas
Seporsi bubur ayam Haji Jewo di Kawasan Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (14/9/2020). 

Namun, sejak pindah lapak, Jokowi yang kini menjabat sebagai Presiden RI belum pernah lagi menyantap bubur H Jewo.

Menikmati Bubur Ayam H Jewo

Soal rasa, bubur ayam Haji Jewo tidak berubah. Ciri khas dari bubur ini adalah tanpa kuah kaldu.

Bubur sudah terasa gurih setelah diolah selama berjam-jam menggunakan beras pera dengan kualitas super.

Di atas bubur, ditaburi potongan cakwe, seledri, bawang goreng, suiran ayam, dan kerupuk.

Manis Kental Es Teler Pertama di Indonesia Sejak 1970-an: Ada di Samping Bioskop Metropole

Nikmatnya Mengudap Rasa Bakmi Gang Kelinci yang Legendaris Sejak 1957

Warteg Warmo Legendaris Sejak 1969 di Tebet Jakarta Selatan

Ayamnya berasal dari ayam kampung. Kata Oco, untuk memotong ayam Haji Jewo memiliki tempat khusus.

Ketika dihidangkan di atas meja, bubur terselimuti topping yang berlimpah. Suiran ayamnya terlihat besar-besar dan banyak.

Sambalnya yang kental juga merupakan kondimen bubur dengan rasa khas. Sebab, ada campuran air tajin bubur sehingga sambal menjadi kental.

Bubur Ayam Haji Jewo buka pukul jam 06.00 WIB sampai 11.00 WIB. Namun, di akhir pekan bisa jadi lebih cepat. Pernah saking ramainya, jam 09.00 WIB bubur telah tandas.

Biasanya cepat habis karena dibeli orang-orang yang kelaparan selepas berolahraga.

Ikuti kami di
Editor: Yogi Gustaman
Sumber: Tribun Jakarta
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved