Kudu Coba Gado-gado Mang Wahyu di Jalan Semarang Menteng, Juara Bumbu Kacangnya

Ada satu tempat makan gado-gado sederhana yang terkenal enak di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat.

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas
Gerobak gado-gado Mang Wahyu di Jalan Semarang, Menteng, Jakarta Pusat pada Jumat (24/7/2020). 

Setahun berselang, Wahyu diajak lagi untuk berjualan di sana lantaran Kepala Rumah Tangga gedung sudah membangun kantin baru.

Wahyu menolak ajakannya karena alasan jauh dari rumahnya.

"Disuruh Ibu Dirjen, dia suka gado-gadonya. Saya enggak mau karena terlalu jauh," tambahnya.

Gado-gado Mang Wahyu yang semula ramai sempat sepi karena pindahnya gedung Dirjen P dan K.

Ditambah pada tahun 1998 saat dilanda krisis moneter, turut berdampak kepada penjualan gado-gadonya.

Wahyu seakan berjualan dari nol lagi. Namun, karena ketekunannya berjualan terus di sana, lambat laun pembeli mulai banyak yang datang.

Mang Wahyu dengan gerobak gado-gadonya di Jalan Semarang pada Jumat (24/7/2020).
Mang Wahyu dengan gerobak gado-gadonya di Jalan Semarang pada Jumat (24/7/2020). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Dari mulut ke mulut, gado-gado Wahyu mulai ramai kembali meski tak seramai pada masa awal buka.

Dalam sehari berjualan, ia bisa menghabiskan sekira 3,5 kg sampai 4 kg bumbu kacang.

Namun, semenjak masa pandemi sekarang, paling habis 2,5 kg bumbu kacang saja.

Kini di Jalan Semarang, hanya tinggal Wahyu pedagang kaki lima yang masih berjualan.

Beberapa rekannya sesama pedagang sudah ada yang tutup usia dan pensiun kerja.

"Dulu ada tukang mie pangsit sama tukang bakso. Tapi sudah tutup usia. Sempat berdua jualan sama tukang cendol. Tahun 2019, ia pensiun dagang. Yang ada tinggal saya doang di sini," ungkapnya.

Selama berdagang dari tahun 1982, ia selalu menggowes sepeda pergi pulang. Rumahnya di kawasan Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat.

Selepas berjualan gerobaknya ditinggal di Jalan Semarang. Barangkali, itu kunci kesehatan Wahyu yang sudah berusia lebih dari setengah abad masih kuat dagang.

"Saya naik sepeda dari tahun 1982. Enggak mau naik motor resikonya harus mutar jauh. Kalau sepeda bebas enggak ada hambatan," ungkapnya.

Namun, bisa jadi selepas Wahyu pensiun, tidak ada lagi yang meneruskan usaha gado-gado yang sudah populer karena enak dan murah di kawasan Menteng itu.

Sebab, keempat anaknya belum terlihat gelagat mau meneruskan usahanya itu.

"Wah kurang tahu, lihat nanti aja deh," beber dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved