Cita Rasa Turun Temurun Soto Padang H Bang Karto, Obat Penawar Rindu Perantau Minang

Siapa sangka di balik semangkuk Soto Padang H Bang Karto yang jadi langganan para perantau Minang, ada sentuhan orang Solo.

Editor: Yogi Gustaman

Pas di Lidah

Menjelang sore ketika jam belanja di Pasar Tanah Abang berakhir, beberapa pengunjung dari kalangan para pedagang mampir ke warung Soto H Bang Karto.

Zulfa (47), salah satu pedagang di Tanah Abang, mengaku menyempatkan mampir sebelum pulang ke rumah.

Pilihannya jatuh ke satu porsi nasi goreng dan satu porsi soto padang untuk dibawa pulang.

Bentuk Terlihat Mirip, Simak Perbedaan Pastel dan Panada

Perempuan asal Bukit Tinggi ini sudah menjadi langganan sejak tahun 1992. Alasannya sederhana, lidahnya cocok dengan rasa kuah soto di warung Soto H Bang Karto .

"Soal rasa cocok aja sama saya di lidah. Biasanya kalau kepingin habis dagang di pasar sebelum pulang mampir dulu ke sini," cerita Zulfa.

Segelas teh talua di warung Soto Padang Haji Bang Karto di Jalan KH Mas Mansyur No 25A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2020).
Segelas teh talua di warung Soto Padang Haji Bang Karto di Jalan KH Mas Mansyur No 25A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2020). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

Wilson (48), pengusaha asal Bukittinggi, menyukai soto di warung ini karena rasanya pas. 

Tekstur dagingnya tidak kering tapi lembab, sedangkan kuah sotonya lebih bening.

Perbedaan itu, lanjut Wilson, yang membuat soto padang di warung Soto H Bang Karto memiliki rasa khas ketimbang soto padang di tempat lain.

Ia pertama kali merasakan soto padang Haji Bang Karto di Bukit Tinggi, saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

"Ini sebagai obat kangen apalagi kita di rantau," kenang dia.

Kali ini Wilson menyantap soto padang seorang diri, biasanya datang bersama keluarga.

Silsilah Soto Padang H Bang Karto

Warung Soto H Bang Karto sangat menjaga warisan rasa secara turun temurun.

3 Rumah Makan Padang di Jakarta Paling Legendaris, Mana yang Jadi Favorit Kamu?

Berawal dari perjalanan Karto dari Solo, Jawa Tengah, menuju Bukittinggi, Sumatera Barat. Fadli tak ingat kapan waktu pasti kakeknya itu merantau.

Di tanah rantau, di usia masih belasan tahun, Karto bekerja di rumah makan soto milik Haji Minah.

Warung Soto Padang Haji Bang Karto di Jalan KH Mas Mansyur No 25A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2020).
Warung Soto Padang Haji Bang Karto di Jalan KH Mas Mansyur No 25A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (19/7/2020). (TribunJakarta.com/Satrio Sarwo Trengginas)

"Kakek saya ini cukup lama kerja sama Haji Minah. Sampai akhirnya kakek saya mencoba memberanikan diri buat buka warung sendiri," cerita Fadli.

Setelah memutuskan keluar, Karto berjualan soto pikul berkeliling kota Bukittinggi. Sampai akhirnya ia bisa membuka warung sendiri.

Awal berjualan, alih-alih menggunakan namas 'mas' atau 'pak,' sang kakek menjual dengan nama mie tahu Bang Karto.

Fadli menduga ada alasan cukup kuat kenapa kakeknya lebih memilih membuka usaha Mie Tahu Bang Karto.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved