Food Story

Byurger: Burger Kekinian Ala Anak Muda di Pasar Cipete Selatan, Berawal Jenuh Kerja Jadi Juru Masak

Di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, ada tempat makan yang menjual burger ala kekinian.

Editor: Yogi Gustaman
Dokumentasi Wiro
Foto-foto burger Byurger 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, CILANDAK - Pasar kini tak lagi sebagai tempat berbelanja kebutuhan ibu rumah tangga.

Di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, ada juga tempat makan yang menjual burger ala kekinian.

Meski dihadang pandemi Covid-19, layanan dalam jaringan (daring) menjadi pilihan anak-anak muda memesan makanan khas Amerika itu di sana.

Foto-foto burger Byurger
Foto-foto burger Byurger (Dokumentasi Wiro)

Saat jam makan siang, sejumlah karyawan Byurger tampak sibuk di dapur.

Beberapa patty, sebutan daging giling berbentuk bola, dan beberapa daging bacon diletakkan di atas besi baja panas.

Sembari digoreng, daging berbentuk bola itu kemudian ditekan dengan alat khusus sehingga berbentuk pipih.

Proses pressing itu bertujuan agar daging terasa garing di luar dan juicy di dalam.

Tak lupa juru masak menaburkan bumbu di atas daging-daging itu.

Bau asap daging seketika tercium hidung.

Nafsu ingin melahap pun timbul.

Foto-foto burger Byurger
Foto-foto burger Byurger (Dokumentasi Wiro)

Patty yang selesai digoreng kemudian dipisahkan dan diletakkan di atas roti burger.

Setelah diberi beberapa topping dan saus khas sesuai menu pesanan, burger itu lalu dibungkus plastik dan dikemas ke dalam tas kertas.

Karyawan lalu memberikan burger itu kepada ojek daring yang sudah menunggu. Begitu seterusnya.

Di masa pandemi saat ini, Byurger masih bisa bertahan. Rahasianya, cita rasa dengan konsep kekinian dan porsi yang tak tanggung-tanggung menjadi daya tarik bagi anak-anak muda untuk membelinya.

Berawal dari Rasa Jenuh

Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan (Dokumentasi Wiro)

Berdirinya Byurger berasal dari ide dua anak muda, Wiro Gele Hydro (30), dan Respati Tamio (27) yang sedang mencari ide untuk bisnis kuliner.

Saat ditemui TribunJakarta di kantornya, Wiro menceritakan bahwa bisnis ini berawal dari rasa jenuh bekerja sebagai juru masak di sebuah perusahaan. Ia sempat beberapa kali pindah tempat kerja dari hotel hingga perusahaan.

Karena masih berjiwa muda, ia memutuskan berhenti kerja dan mencoba merintis bisnis sendiri.

"Setiap hari kerjanya di dalam enggak bisa melihat matahari, bosen kerja. Terus memutuskan cari partner mau bikin warung sendiri. Partner saya suruh resign juga," cerita pria lulusan sekolah masak di Jakarta International Hotel School kepada TribunJakarta,com pada Kamis (11/6/2020).

Ide membuat burger tercetus ketika temannya, yang kini jadi partner usaha, Respati berlibur ke Bali. Ia terinspirasi dengan burger yang dijual di sana.

Sekira enam sampai delapan bulan, mereka mengumpulkan dan mencari dana untuk membangun usaha itu.

"Awalnya kan pingin yang konsep fine dining, table set up, tapi balik lagi ke modal. Kita mampunya bikin small space dulu," lanjutnya.

Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan (Dokumentasi Wiro)

Karena terkendala biaya sewa, Pasar Cipete Selatan dipilih untuk membangun usaha burger pertamanya.

Mereka pun membuat konsep American Dinner yang menawarkan burger sebagai makanan utama.

Bukan sekadar menyajikan burger klasik yang mengandalkan daging dan keju, akan tetapi juga menawarkan beberapa rasa yang bisa diterima anak-anak muda.

Gaya burgernya menganut gaya burger ala kekinian seperti pengaruh Korea dan Jepang, yang disukai anak-anak muda

"Karena kita ingin memberikan sesuatu yang berbeda, ada pengaruh Korea dan Jepang. Kalau Korea misalnya ada tambahan kimchi kalau Jepang ada unagi dan saus teriyaki," ujarnya.

Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan (Dokumentasi Wiro)

Byurger tak sepenuhnya berkonsep makanan cepat saji yang terkesan hanya menggunakan makanan beku.

Wiro mengurangi makanan beku daging pun juga masih terbilang segar dan aneka sayur yang masih segar. Saus pun ia membuat sendiri.

"Konsep fast food udah terlalu berkesan makanan kurang sehat, di sini kita ingin mengubah semuanya. Kita mengurangi sisi fast food-nya, kita bikin casual dining, semi casual," ujarnya.

Diguyur Burger

Foto-foto burger Byurger
Foto-foto burger Byurger (Dokumentasi Wiro)

Barangkali sesuai namanya, satu porsi burger serasa diguyur dengan isian roti.

Sebab, daging burger itu tidak tanggung-tanggung. Dagingnya cukup besar dengan topping yang lumayan banyak sesuai menu.

Byurger menyajikan beberapa menu seperti sejumlah menu favorit di antaranya, Damn Basic, Chi-Chi dan Sexyback Rib.

Saya sempat menikmati seporsi Sexyback Rib. Burger itu terdiri dari daging iga sapi yang dimasak selama 36 jam, saus BBQ, bawang bombay, coleslaw.

Topping di Sexyback Ribs memang memuaskan isi perut. Sebab, isian daging iga sapi banyak.

Perpaduan saus BBQ yang manis dan gurih pun menjadi pendukung rasa dari daging. Sementara topping coleslaw yang terdiri dari kol putih dan kol merah tampak crunchy. Sedangkan rasa asam berasal dari saus mayonaise.

Foto-foto burger Byurger
Foto-foto burger Byurger (Dokumentasi Wiro)

Sedangkan menu kentang goreng sebagai makanan pendamping juga sayang untuk dilewatkan.

Kentang yang digoreng bersama kulitnya itu pun terasa garing dan gurih. Harga burger berkisar antara Rp 35 ribu hingga Rp 60 ribu.

Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Byurger yang terletak di Pasar Cipete Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan (Dokumentasi Wiro)

Saat ini Byurger hanya melayani pesan antar dan via daring di masa PSBB. Buka setiap hari dari pukul 10.30 sampai 21.30 WIB.

Byurger seakan mengingatkan saya dengan film Chef yang dibintangi John Fevreau dan Sofia Vergara.

John yang berperan sebagai Chef profesional memutuskan keluar dari restoran berbintang karena terlibat konflik dengan kritikus makanan.

Novel Baswedan Marah Penyiram Dirinya Dituntut 1 Tahun Penjara: Mention Presiden Jokowi, Selamat . .

Cerita Atun Tunda Terapi Anaknya Akibat Tunggakan BPJS, Penghasilan Tak Sampai Rp50 Ribu/hari

Jelang Dibuka 15 Juni, Mal Emporium Pluit Berlakukan Program 100 Persen Touchless

Tak punya uang, ia terpaksa beralih menjadi penjual roti cubanos yang dijual ala street food dengan truk.

Wiro dan Respati juga mirip. Bedanya, dua anak muda ini memutuskan keluar kerja dan memberanikan diri memulai bisnis kuliner burger sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Mereka berjualan bukan di truk melainkan di Pasar Cipete Selatan yang terletak di Selatan Jakarta.

Sumber: Tribun Jakarta

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved